Kembali ke Blog
Tips Website
Tim Puplas
31 Januari 2026
10 menit baca

5 Kesalahan Fatal UMKM Saat Membuat Website Pertama (Dan Cara Menghindarinya)

Setiap minggu, ada UMKM di Padang yang datang ke kami dengan keluhan: "Website saya sudah jadi, tapi kok sepi pengunjung? Tidak ada yang order?" Atau lebih parah: "Website saya error terus, pembuatnya sekarang tidak bisa dihubungi."

Setelah handling ratusan project website UMKM, kami menemukan pola: ada 5 kesalahan yang hampir selalu dilakukan oleh pemilik bisnis yang baru pertama kali buat website. Kesalahan ini bukan cuma buang-buang uang, tapi juga bikin bisnis kehilangan peluang besar.

Artikel ini akan breakdown setiap kesalahan dengan detail, plus solusi praktis supaya Anda tidak jadi korban berikutnya.

Kesalahan #1: Pilih Vendor Berdasarkan Harga Termurah

Ini kesalahan paling umum dan paling mahal. Banyak UMKM yang tergiur dengan tawaran "website cuma Rp 500.000" atau bahkan "Rp 300.000 all-in".

Realita di Balik Harga Murah:

  • Template murahan yang dipakai puluhan website lain (identik, tidak unik)
  • Loading lambat karena pakai hosting gratisan atau shared hosting termurah
  • Tidak responsive di HP (padahal 70% traffic dari mobile)
  • Tidak SEO-friendly sehingga tidak akan pernah muncul di Google
  • Tidak ada support setelah launch - kalau error, Anda sendirian
  • Keamanan rendah - gampang kena hack atau virus

💸 Case Study Kerugian

Pak Budi, pemilik toko elektronik di Padang, bayar Rp 400.000 untuk website "all-in". Setelah 2 bulan:

  • Website sering down, pelanggan komplain tidak bisa buka
  • Pembuatnya hilang, tidak bisa dihubungi untuk perbaikan
  • Harus bayar developer lain Rp 2 juta untuk fix masalah
  • Akhirnya remake dari nol, total loss: Rp 2,4 juta + 3 bulan waktu terbuang

Kalau dari awal bayar Rp 1,5-2 juta ke provider yang proper, masalah ini tidak akan terjadi.

Solusi: Value for Money, Bukan Cheapest

  • Budget realistis: Website company profile yang proper minimal Rp 1,5-2,5 juta
  • Cek portfolio: Minta lihat minimal 5 website yang pernah dibuat
  • Test website mereka: Buka di HP dan laptop, cek loading speed
  • Garansi maintenance: Minimal 1-3 bulan gratis after-sales support
  • Clear contract: Tertulis jelas apa saja yang included dan tidak

Kesalahan #2: Tidak Siapkan Konten Sebelum Website Dibuat

Website sudah jadi, tapi isinya cuma "Lorem ipsum dolor sit amet..." atau foto-foto random dari internet. Ini membuat website terlihat tidak profesional dan tidak dipercaya calon pelanggan.

Dampak Buruknya:

  • Pelanggan tidak tahu produk/jasa Anda secara detail
  • Terlihat abal-abal, kredibilitas drop
  • Google tidak akan rank website tanpa konten berkualitas
  • Project terlambat launch karena nunggu konten dari klien

Solusi: Siapkan Konten Sejak Awal

Checklist Konten yang Harus Disiapkan:

📝 Teks/Tulisan:

  • Deskripsi bisnis (100-200 kata)
  • Deskripsi setiap produk/layanan (50-100 kata per item)
  • Testimoni pelanggan (minimal 3-5)
  • Informasi kontak lengkap (alamat, HP, email, jam operasional)
  • FAQ (5-10 pertanyaan yang sering ditanya)

📸 Visual:

  • Logo bisnis (format PNG dengan background transparan)
  • Foto produk berkualitas tinggi (minimal 3-5 foto per produk)
  • Foto tempat usaha atau team (untuk build trust)
  • Banner/hero image untuk homepage

Tips: Kalau Anda tidak bisa menulis atau foto sendiri, ada 2 opsi:

  1. Bayar copywriter dan fotografer profesional (invest Rp 500rb-1 juta)
  2. Pakai jasa web developer yang include content creation (biasanya ada paket bundle)

Kesalahan #3: Tidak Mikirin Mobile Responsive

"Website saya sudah bagus di laptop, tapi kenapa di HP berantakan?" - Ini komplain yang sering kami terima dari klien yang pakai jasa abal-abal.

Fakta Penting:

  • 70-80% pengunjung website UMKM dari mobile
  • Google prioritaskan mobile-friendly website di ranking pencarian
  • 53% pengunjung mobile akan bounce kalau loading lebih dari 3 detik
  • Pengalaman buruk di mobile = lost customer

Ciri Website TIDAK Mobile-Friendly:

  • Teks terlalu kecil, harus zoom untuk baca
  • Tombol/link terlalu kecil atau berdekatan, susah diklik
  • Gambar keluar dari layar atau terpotong
  • Menu navigasi tidak responsive (harus scroll horizontal)
  • Form input susah diisi di layar HP

Solusi: Mobile-First Approach

  • Pastikan developer design untuk mobile dulu, baru desktop
  • Test di berbagai device: iPhone, Android, tablet
  • Check dengan Google Mobile-Friendly Test (tool gratis dari Google)
  • Loading speed maksimal 3 detik di jaringan 4G
  • Tombol WhatsApp dan Phone harus mudah diklik di mobile

Kesalahan #4: Tidak Ada Call-to-Action (CTA) yang Jelas

Website sudah bagus, tapi pengunjung bingung: "Terus, saya harus ngapain?" Tidak ada tombol jelas untuk order, inquiry, atau kontak.

Dampaknya:

  • Conversion rate rendah - banyak yang lihat, sedikit yang action
  • Pengunjung langsung pergi tanpa melakukan apa-apa
  • Investasi traffic (organik atau ads) jadi sia-sia

Solusi: CTA yang Clear & Compelling

CTA Wajib di Website UMKM:

✅ Primary CTA (Paling Penting)

  • Floating WhatsApp button (selalu visible saat scroll)
  • Tombol "Order Sekarang" atau "Konsultasi Gratis" di hero section
  • Form inquiry/contact yang mudah diisi

✅ Secondary CTA

  • Download catalog/pricelist
  • Lihat portfolio atau case study
  • Baca testimoni pelanggan
  • Follow social media

Tips Copywriting CTA yang Convert:

  • ❌ Buruk: "Hubungi Kami" → ✅ Bagus: "Konsultasi Gratis via WhatsApp"
  • ❌ Buruk: "Lihat Produk" → ✅ Bagus: "Lihat Katalog & Harga Lengkap"
  • ❌ Buruk: "Daftar" → ✅ Bagus: "Dapatkan Diskon 10% Sekarang"

Kesalahan #5: Lupa Maintenance & Update Setelah Launch

Website sudah launch, terus ditinggal begitu saja. Tidak ada update, tidak ada maintenance. 6 bulan kemudian: website lambat, error, atau bahkan kena hack.

Masalah yang Timbul:

  • Keamanan lemah: Plugin dan CMS yang tidak update jadi celah hacker
  • Performance menurun: Database kotor, cache menumpuk
  • Informasi kadaluarsa: Harga, produk, atau kontak yang sudah berubah
  • Ranking Google turun: Google suka website yang aktif update
  • Kompetitor menang: Mereka update terus, Anda stagnant

Solusi: Maintenance Rutin

Checklist Maintenance Bulanan:

  • Update CMS dan plugin ke versi terbaru
  • Backup database dan files
  • Check broken links
  • Monitor uptime dan loading speed
  • Review Google Analytics dan Search Console
  • Update konten minimal 1-2x per bulan (blog, produk baru, promo)

Opsi Maintenance:

  1. DIY (Do It Yourself): Kalau paham teknis, bisa handle sendiri (hemat biaya)
  2. Hire Part-time Tech: Bayar freelancer Rp 200-500rb/bulan untuk maintenance rutin
  3. Paket Maintenance dari Developer: Biasanya Rp 300-800rb/bulan (recommended untuk yang tidak paham teknis)

💡 Pro Tips dari Puplas

Saat negotiasi dengan web developer, pastikan ada:

  • 1-3 bulan garansi gratis untuk bug fixing dan minor adjustment
  • Training cara update konten sendiri (untuk hemat biaya maintenance)
  • Dokumentasi lengkap tentang website Anda
  • Source code dan akses penuh ke hosting & domain

Jangan sampai terjebak vendor lock-in dimana Anda tidak punya akses apapun dan harus selalu bayar mereka untuk perubahan kecil.

Bonus: Red Flags Saat Pilih Web Developer

Waspadai tanda-tanda ini saat negotiasi:

  • 🚩 Tidak ada portfolio yang bisa ditunjukkan
  • 🚩 Harga sangat murah dibanding market rate (di bawah Rp 1 juta untuk company profile)
  • 🚩 Tidak mau kasih garansi atau after-sales support
  • 🚩 Timeline tidak realistic ("website jadi 3 hari!" padahal kompleks)
  • 🚩 Komunikasi lambat atau susah dihubungi bahkan sebelum project mulai
  • 🚩 Tidak mau jelaskan teknis atau "trust me bro" terus
  • 🚩 Tidak ada kontrak tertulis yang jelas
  • 🚩 Minta full payment di depan tanpa milestone atau terms

Kesimpulan: Investasi yang Tepat Sejak Awal

Website adalah aset digital jangka panjang untuk bisnis Anda. Kesalahan di awal bukan cuma bikin rugi uang, tapi juga buang-buang waktu dan kehilangan peluang bisnis.

Recap 5 Kesalahan Fatal:

  1. Pilih vendor berdasarkan harga termurah
  2. Tidak siapkan konten sebelum website dibuat
  3. Tidak mikirin mobile responsive
  4. Tidak ada call-to-action yang jelas
  5. Lupa maintenance dan update setelah launch

Dengan menghindari 5 kesalahan ini, Anda sudah selangkah lebih dekat ke website yang tidak hanya cantik, tapi juga efektif menghasilkan leads dan penjualan untuk bisnis Anda.

Tags:WebsiteUMKMTips BisnisWeb DevelopmentKesalahanPadang

Mau Website yang Bener Dari Awal?

Konsultasi gratis dengan tim Puplas. Kami akan guide Anda step-by-step supaya tidak salah langkah dan investasi website Anda menghasilkan ROI maksimal.